Pengusaha Migas Harap Presiden Baru Paham Isu Sektor Energi

Selamat datang The History of Destroying Herstory di Portal Ini!

The History of Destroying Herstory, Jakarta – Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan peran sektor hulu minyak dan gas (migas) di Indonesia masih besar dalam pencarian sumber energi baru terbarukan. Dalam proses transisi energi di Indonesia, cadangan hulu migas tidak bisa serta merta ditinggalkan. Pengusaha Migas Harap Presiden Baru Paham Isu Sektor Energi

Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong menjelaskan akan banyak perubahan dalam tata kelola sektor migas, apalagi dengan pergantian pemimpin baru.

“Kita menantikan arahan pemimpin-pemimpin baru di sektor migas, kita tidak berbicara tentang individu atau kelompok, kita berbicara tentang arah yang tepat untuk sektor migas yang saat ini sedang banyak mengalami perubahan,” ujarnya. dikatakan. . Marzolijn pada acara media briefing IPA Convex 2024 pada Kamis (1/2/2024) Berbagi Ilmu, Daikin Terima Kunjungan Mahasiswa UPH

Menurut Marjolijn, sektor migas saat ini sedang mengalami take-off atau pertumbuhan, sebuah momen penting yang harus terus digaungkan, terutama perubahan pada sektor transisi energi.

“Harapannya kita dapat pemimpin yang paham migas dan bisa membawakan regulasi. Kalau ada perubahan, kalau perubahannya positif mari kita dorong. Penting bagi kita punya presiden yang paham persoalannya, tapi standarnya. seorang presiden berbeda-beda,” jelas Marzolijn.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Gubernur OPEC Vidyawan Praveera Atmaja Energy Team Bimasena mengatakan kebijakan migas diperlukan untuk jangka panjang dan investor memerlukan kebijakan yang mudah masuk.

“Pertanyaannya bagaimana menjadikan Indonesia bukan hanya tempat bagi investor untuk berinvestasi, tapi tempat yang nyaman bagi mereka. Mereka melihat sumber dayanya dan mudah dalam berbisnis,” kata Vidyawan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kini ada momentum di Indonesia, terutama karena banyaknya penemuan gas sehingga gas ini menjadi dominan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan jumlah kendaraan berbahan bakar minyak di masa depan akan semakin berkurang. Faktanya, pada tahun 2040, hanya 40 persen dari seluruh kendaraan yang tersisa.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Promosi Pembangunan Industri Sektor ESDM Agus Tjahazana meyakini hal tersebut bisa terjadi karena adanya bauran energi bersih. Salah satunya adalah peralihan dari kendaraan bertenaga bahan bakar, mesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik baterai.

Proyeksi ini menunjukkan transisi energi ini pada akhirnya memerlukan identifikasi kendaraan jenis baru sehingga menurunkan ICE, ujarnya di kantor Kementerian ESDM, dikutip Minggu (28/1/2024).

Ia juga mengatakan, “Tahun 2040 ramalan (prediksi) hanya 50 persen, ada yang bilang 40 persen, dan sisanya kendaraan ramah lingkungan.”

Agus mengatakan kendaraan ramah lingkungan sangat beragam. Mulai dari kendaraan listrik (EV), atau kendaraan hybrid. Pengusaha Migas Harap Presiden Baru Paham Isu Sektor Energi

“Kalau di bidang ekologi jenisnya bermacam-macam, termasuk EV, ada yang hybrid,” ujarnya.

Agus meninjau kembali aki bekas kendaraan listrik. Berbasis nikel termasuk nikel-mangan-kobalt (NMC), dan litium-besi-fosfat (LFP). Keduanya diharapkan memiliki kelebihan masing-masing.